3 Penyebab Sulitnya Menunjukkan Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anaknya

Mengajak anak bermain bersama merupakan contoh kasih sayang orangtua kepada anak

Kasih sayang orang tua kepada anaknya dapat meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan anak. Sebaliknya, gagalnya memberikan atau menunjukkan kasih sayang bisa merugikan pertumbuhan psikologis anak, menyebabkan luka atau trauma pada mental anak. Oleh karena itu, sebaiknya para orang tua perlu mengetahui beberapa penyebab gagalnya orang tua menunjukkan kasih sayang ke anaknya.

KASIH SAYANG ORANG TUA

Kasih orang tua mencakup banyak hal, mulai dari ekspresi, tingkah laku, dan perasaan. Ekspresi kehangatan yang tulus, seperti senyuman atau tatapan ramah, dapat menenangkan hati anak. Selain itu, dengan berekspresi, para orang tua dapat memberi tahu soal perasaannya kepada anak, seperti empati atau humor.

Selain dalam bentuk ekspresi, sentuhan fisik juga menjadi poin penting. Memberikan belaian kepada anak, memeluknya, mencium kening sebelum anak tidur merupakan bentuk afeksi. Kegiatan ini dapat dilihat dan dirasakan oleh anak secara langsung.

Sayangnya, tidak semua orang tua memiliki metode yang sama ketika menunjukkan kasih sayangnya. Banyak para orang tua yang bersikap cukup keras tanpa memperdulikan perasaan sang anak. Meskipun bertujuan baik, tetap saja anak butuh didengarkan dan diperhatikan. Padahal, orang tua merupakan lingkungan pertama yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak.

ASALAN GAGAL DALAM MENUNJUKKAN KASIH SAYANG

Para orang tua seringkali tidak sadar bahwa beberapa cara mereka dalam mendidik mungkin dapat menyakiti hati anak. Bahkan seringkali menimbulkan kesalahpahaman antara anak dan orang tua. Hal ini yang sering membuat anak jadi memberontak. Oleh karena itu, sebaiknya para orang tua mengetahui beberapa alasan yang perlu diperhatikan dalam menunjukkan kasih sayang.

Ada delapan alasan mengapa seringkali sulit bagi orang tua untuk mencintai anak-anak mereka atau menunjukkan kasih sayang secara gamblang. 

1. Banyak orang tua memiliki citra diri negatif yang tanpa disadari mereka berikan kepada anak-anak mereka

Bagi beberapa orang tua mungkin sulit untuk mencintai diri mereka sendiri, sehingga menciptakan citra negatif ke diri sendiri. Kurangnya kemampuan dalam mengelola emosi juga dapat meningkatkan citra negatif di diri para orang tua.

Banyak orang tua yang seringkali melampiaskan kemarahan atau kekesalannya kepada anak. Hal ini tentu akan terekam di dalam memori anak sehingga menimbulkan trauma. Bisa saja anak jadi berpikir bahwa orang tua mereka “selalu marah-marah” sehingga anak pun enggan untuk mendekati orang tua. Anak akan merasa terbuang dan persepsi ini sulit untuk dihilangkan.

2. Orang tua merasa memiliki beban 

Para orang tua yang baru saja memiliki anak biasanya akan terkejut karena harus beradaptasi. Memiliki anak, berarti para orang tua harus memikul tanggung jawab yang besar, mulai dari waktu, biaya, pakaian, makanan, hingga pendidikan anak. Bagi orangtua yang belum siap, bisa saja menganggap anak sebagai beban sehingga sulit untuk menunjukkan kasih sayang ke anak. 

3. Banyak orang merasa sulit atau tidak bisa menerima cinta—khususnya, ungkapan cinta langsung yang sederhana dari anak-anak

Sama seperti anak, para orang tua juga dibesarkan oleh orang tua mereka (nenek-kakek). Tidak semua orang tua memiliki masa kecil yang indah, terlebih tidak semua orang tua juga siap memiliki anak karena kurangnya bekal ilmu parenting.

Seiring bertambahnya usia, tentu manusia tidak akan luput dari masalah. Bagi orang tua yang mampu mengelola emosi mereka mungkin akan cepat untuk pulih dan bangkit. Namun, bagi mereka yang sulit, akan menjadi trauma tersendiri sehingga memengaruhi emosional. 

Jika orang tua terluka, mereka juga akan sulit untuk mencintai diri sendiri sehingga tidak dapat memproyeksikan keintiman dengan anak. Ketika menghadapi rasa sakit emosional, para orang tua secara tidak sadar akan menjauhkan diri dari anak mereka.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *