Sunat perempuan, Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutnya sebagai mutilasi alat kelamin perempuan (female genital mutilation/ FGM) merupakan prosedur yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh alat kelamin perempuan bagian luar, atau cedera lain pada alat kelamin perempuan karena alasan non-medis.

Praktek ini banyak dilakukan oleh khitan tradisional, yang juga memainkan peran sentral lainnya di masyarakat. Di banyak tempat, penyedia layanan kesehatan melakukan sunat perempuan, karena keyakinan bahwa prosedur tersebut lebih aman jika dilakukan secara medis. Padahal, tidak ada alasan medis yang melatarbelakangi prosedur ini. Bahkan WHO dan beberapa asosiasi medis lainnya di dunia melarang adanya prosedur sunat perempuan di beberapa negara.

Sunat perempuan atau FGM diakui secara internasional sebagai pelanggaran hak asasi anak perempuan dan perempuan dewasa. Prosedur ini mencerminkan ketidaksetaraan yang mengakar di antara jenis kelamin, dan merupakan bentuk ekstrim dari diskriminasi terhadap perempuan. 

Sunat perempuan hampir selalu dilakukan pada anak di bawah umur dan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak anak. WHO menganggap praktik ini juga melanggar hak seseorang atas kesehatan, keamanan dan integritas fisik, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat, dan hak untuk hidup ketika prosedur tersebut mengakibatkan kematian.

Tipe prosedur sunat perempuan

Sunat perempuan memiliki prosedur yang berbeda-beda. WHO pun mengelompokkan prosedur ini menjadi empat tipe yaitu:

  • Tipe 1 atau dikenal dengan istilah clitoridectomy. Pada tipe ini, seluruh bagian klitorin akan diangkat. Namun, ada pula yang hanya mengangkat lipatan kulit di sekitar klitoris.
  • Tipe 2 atau dikenal dengan eksisi. Pada tipe prosedur ini, pengangkatan dilakukan pada sebagian atau seluruh klitoris dan labia minora (lipatan vagina bagian dalam). Pengangkatan dilakukan dengan atau tanpa labia majora (lipatan luar vagina).
  • Tipe 3 atau dikenal dengan infibulasi. Prosedur ini membuat pembukaan vagina menjadi lebih sempit, dengan menempatkan semacam lapisan penutup. Penutup tersebut dibuat dari potongan reposisi labia minora atau labia mayora yang kemudian akan dijahit. Prosedur ini akan disertai dengan atau tanpa pengangkatan klitoris.
  • Tipe 4 dan merupakan tipe yang paling berbahaya. Pada tipe keempat prosedur sunat perempuan akan meliputi menusuk area tersebut dengan jarum, mengiris, atau menggoresnya, kemudian masuk ke dalam genital.

Sunat perempuan kebanyakan dilakukan pada gadis-gadis muda antara masa bayi dan remaja, dan kadang-kadang pada wanita dewasa. Lebih dari 3 juta anak perempuan diperkirakan berisiko mengalami sunat perempuan setiap tahun.

Lebih dari 200 juta anak perempuan dan perempuan yang hidup saat ini telah menjadi sasaran praktik tersebut, menurut data dari 30 negara tempat data populasi ada

Praktek ini terutama terkonsentrasi di wilayah Afrika Barat, Timur, dan Timur Laut, di beberapa negara di Timur Tengah dan Asia, serta di antara para migran dari wilayah ini. Oleh karena itu, sunat perempuan atau FGM menjadi perhatian global.

Bagaimana praktik sunat perempuan di Indonesia?

Di Indonesia, sunat perempuan adalah hal yang dianggap wajar dan didukung dengan kentalnya adat, budaya, agama, serta dorongan masyarakat. Alhasil, prosedur pemotongan alat genital perempuan ini masih dianggap normal dan dilakukan hingga sekarang.

Pada tahun 2014, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menerbitkan Permenkes 2014. Dalam peraturan tersebut menganggap bahwa sunat perempuan bukan merupakan tindakan kedokteran karena pelaksanaannya tidak berasal dari indikasi medis. Merujuk pada hal tersebut, pelaksanaannya belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan.

Namun, karena secara tradisi sunat perempuan masih sering dilakukan di Indonesia, Kementerian Kesehatan hanya dapat mengimbau agar sunat perempuan harus memperhatikan keselamatan dan kesehatan objek yang disunat, serta tidak melakukan mutilasi alat kelamin perempuan.

Ketidaktegasan kemenkes tersebut membuat prosedur sunat perempuan terus menjadi perdebatan di Indonesia. Boleh atau tidaknya anak perempuan disunat pun masih ada dalam batas abu-abu. Intinya, kegiatan tersebut sangat tidak dianjurkan karena tidak ada alasan medis yang melatarbelakanginya serta tidak memiliki manfaat bagi kesehatan. Bahkan prosedur ini cenderung akan mengakibatkan efek samping jangka panjang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *