Transfusi tukar merupakan suatu prosedur yang dilakukan untuk menyembuhkan suatu kondisi yang membahayakan nyawa. Secara khusus, transfusi ini dilakukan untuk mengatasi penyakit kuning yang serius atau perubahan dalam darah akibat penyakit anemia sel sabit.

Prosedur transfusi tukar melibatkan pengangkatan darah pasien yang kemudian digantikan dengan darah atau plasma dari pendonor. Prosedur ini umumnya hanya dilakukan sebagai upaya perawat pasien dengan kondisi berbahaya yang mengancam jiwa. 

Bagaimana prosedur transfusi tukar dilakukan? 

Sesuai dengan namanya, transfusi tukar dilakukan dengan menukar darah atau plasma pasien. Penukaran dilakukan dengan menggunakan suatu alat berupa tabung tipis yang disebut kateter ke dalam pembuluh darah.

Prosedur ini biasanya dilakukan dalam beberapa siklus. Masing-masing siklus memakan waktu selama beberapa menit. 

Secara perlahan, darah pasien akan diambil atau dikeluarkan dengan takaran sekitar 5-20 ml sekaligus. Takaran darah yang diambil ini ditentukan oleh ukuran pasien dan tingkat keparahan penyakitnya.

Setelah itu, darah yang telah dikeluarkan akan digantikan dengan darah dari pendonor dalam jumlah yang sama. Sebelumnya, darah yang didonorkan tersebut akan dipanaskan terlebih dahulu.

Dalam beberapa kasus, darah yang dikeluarkan tidak digantikan dengan darah dari pendonor, melainkan dengan larutan garam normal, plasma, atau albumin. Hal ini diterapkan apabila pasien menderita penyakit polisitemia neonatal.

Setelah transfusi dilakukan, biasanya pasien akan tetap harus menjalani perawatan rawat inap di rumah sakit. Selama beberapa hari, pihak rumah sakit akan terus memonitor kondisi pasien. Lamanya durasi rawat inap tergantung pada kondisi yang diderita masing-masing pasien. 

Mengapa perlu melakukan transfusi tukar?

Prosedur transfusi tukar dilakukan untuk meredakan gejala dari penyakit tertentu, salah satunya penyakit kuning yang parah serta anemia sel sabit. 

Penyakit kuning terjadi ketika terjadi penumpukan bahan kimia yang disebut bilirubin di dalam tubuh Anda. Gejalanya berupa perubahan warna kulit dan mata yang menjadi kekuningan.

Bayi yang baru lahir cukup umum mengalami kondisi ini. Biasanya, kondisi ini bisa terjadi pada bayi yang lahir secara prematur atau sebelum minggu ke-38 kehamilan.

Sementara, anemia sel sabit disebabkan oleh sel darah merah yang menjadi kaku dan membentuk bulan sabit. Hal ini membuat darah tidak bisa mengalir dengan semestinya dan menyebabkan penyumbatan. 

Selain itu, transfusi tukar juga mungkin dilakukan untuk memenuhi alasan berikut: 

  • Adanya jumlah sel darah merah yang sangat tinggi pada bayi yang baru lahir. Kondisi ini disebut polisitemia neonatal.
  • Bayi baru lahir mengalami penyakit hemolitik yang diinduksi Rh.
  • Terjadi gangguan parah dalam kimia tubuh.
  • Bayi yang menderita penyakit kuning sangat parah dan tidak berhasil diobati dengan pengobatan fototerapi.
  • Krisis anemia sel sabit yang sangat parah.
  • Keracunan atau efek samping dari pemakaian obat-obatan tertentu.

Apa yang perlu dipersiapkan saat akan melakukan transfusi tukar?

Sebelum menjalani prosedur ini, biasanya dokter akan meminta pasien untuk melakukan tes darah terlebih dahulu untuk mengenali golongan darah pasien. Tes hanya dilakukan dengan mengambil sedikit darah Anda sebagai sampel.

Biasanya, Anda tidak perlu melakukan diet khusus menjelang proses transfusi. Bila Anda pernah memiliki alergi saat transfusi darah di masa lalu, jangan lupa untuk menyampaikannya pada dokter.

Setelah transfusi tukar selesai dilakukan, dokter akan memeriksa tekanan darah, detak jantung, dan suhu tubuh Anda. Jika hasil pemeriksaan normal, Anda tetap akan dimonitor selama beberapa hari.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *