Cara Mengecilkan Pori-Pori Tanpa Merusak Kondisi Wajah

Tampilan pori-pori wajah yang lebih besar sering kali membuat seseorang merasa tidak percaya diri. Tidak jarang, banyak yang mencari cara untuk mengecilkan pori-pori wajah agar penampilannya terlihat sempurna. Satu hal yang pasti, pori-pori wajah pada dasarnya tidak dapat dikecilkan, hanya dapat disamarkan.

Bagaimana cara yang mengecilkan pori-pori yang benar tanpa merusak kondisi wajah?

Penyebab utama yang menjadi faktor ukuran pori-pori terlihat besar adalah penyumbatan yang terjadi pada pori-pori itu sendiri. Produksi minyak dan juga kotoran yang dari akibat debu dan polusi menyumbat pori-pori wajah. Selain itu, adanya penumpukan sel-sel kulit mati di wajah juga dapat menjadi faktor pendukung ukuran pori-pori membesar. Apabila minyak, kotoran, dan sel-sel kulit mati ini dibersihkan secara benar dan rutin, maka akan sangat mungkin pori-pori wajah terlihat mengecil. Berikut cara efektif untuk mengecilkan pori-pori wajah agar tampak lebih samar:

  1. Pilihlah produk makeup yang mengandung bahan-bahan yang sesuai dengan kondisi dan permasalahan kulit. Dalam hal ini, pilihlah makeup yang bersifat noncomedogenic, oilfree, dan won’t clog pores. Produk makeup dengan label-label tersebut tidak akan menyumbat pori-pori ketika makeup dipoleskan.
  2. Oleskan tabir surya setiap hari ketika akan beraktivitas di luar ruangan. Kepadatan kulit wajah akan terus berkurang, apabila kulit terpapar sinar matahari secara langsung. Kondisi ini akan membuat kulit terlihat kendur dan tampilan pori-pori menjadi lebih besar. Pilihlan produk tabir surya dengan kandungan SPF 30 ke atas dan gunakan secara rutin, walaupun cuaca sedang tidak terik.
  3. Bersihkan wajah rutin minimal dua kali sehari dapat membantu menghilangkan minyak dan kotoran yang menyumbat pori-pori wajah. Usahakan untuk tidak menggunakan air yang terlalu panas agar tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Jangan lupa untuk menggosok lembut wajah agar tidak terjadi peradangan kulit yang menyebabkan tampilan pori-pori membesar. Pilihlah produk pembersih wajah yang bersifat noncomedogenic untuk menghindari kemungkinan iritasi.
  4. Gunakan produk perawatan kulit wajah pendukung di luar pembersih wajah yang mengandung retinol. Tahapan penggunaan produk ini dapat 30 menit setelah mencuci wajah.
  5. Lakukan eksfoliasi (pengelupasan sel kulit mati) secara rutin. Proses ini berfungsi untuk membersihkan wajah dari sel-sel kulit mati yang menyumbat pada pori-pori wajah. Usahakan untuk melakukannya secara rutin sebanyak 2-3 kali dalam seminggu. Pilihlah produk eksfoliasi yang memiliki kandungan alphahydroxy acids (AHA) dan betahydroxy acids (BHA).

Itu tadi beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyamarkan pori-pori wajah. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit apabila terjadi permasalahan yang timbul dari cara-cara tersebut. Konsultasikan kondisi kulit Anda yang sebenarnya untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Apakah Bronkitis Pada Anak Bisa Menular?

Saat mendengar seorang anak menderita batuk pilek yang tidak kunjung sembuh, kita sering kali bertanya apakah penyakit yang sedang diderita tersebut menular atau tidak. Hampir semua penyakit pernapasan bisa menular, namun apakah bronkitis pada anak juga bisa menular? Berikut penjelasannya.

Sumber penyakit bronkitis pada anak

  1. virus

bronkitis disebabkan oleh virus. Jenis virus yang sama dengan penyebab pilek dan flu sering menyebabkan bronkitis akut. Virus-virus ini dapat menyebar di udara ketika orang pengidap virus tersebut baik dan melalui sentuhan. Hal ini dapat terjadi saat seseorang pengidap virus ini menyentuh tangan seseorang atau bersentuhan dengan orang lain tanpa mencuci tangan.

  • Bakteri

Infeksi bakteri juga dapat menyebabkan bronkitis pada anak yang akut. Hal ini cenderung terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan pada perokok.

  • Lingkungan

Bronkitis akut juga dapat disebabkan oleh paparan asap rokok, debu, uap cairan kimia, asap atau polusi udara. Menghindari iritasi dapat mengatasi kondisi tersebut.

  • Jenis bronkitis

Sama halnya dengan bronkitis akut, bronkitis kronis merupakan peradangan pada saluran bronkial. Namun, bronkitis kronis bukan disebabkan oleh virus atau bakteri. Sebaliknya, bronkitis disebabkan oleh paparan seperti asap rokok, polusi udara atau debu dalam jangka panjang sehingga menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan.

Cara menghindari bronkitis pada anak

  1. Jauhi lingkungan yang memiliki bau-bau tajam. Menghindari iritasi paru-paru merupakan hal yang penting untuk mencegah dan mengobati bronkitis akut. Oleh karena itu, jauhi lingkungan yang mengandung bau-bau tajam, seperti asap rokok, cat, atau pernis.
  2. Sering-seringlah mengingatkan anak untuk mencuci tangan mereka untuk mengurangi paparan virus dan bakteri.
  3. Dapatkan suntikan flu setiap tahun
  4. Konsultasikanlah dengan dokter mengenai suntikan pneumonia

Sebagian besar kasus bronkitis pada anak dapat diobati di rumah dengan cara beristirahat, menggunakan obat antiperadangan, dan minum banyak cairan. Namun, dalam beberapa kasus, penting untuk memeriksakan kondisi anak anda pada dokter. Berikut ini merupakan tanda-tanda bahwa Anda perlu memeriksakan kondisi anak pada dokter:

  • Batuk yang berlangsung selama lebih dari 3 minggu.
  • Demam yang berlangsung selama 3 hari atau lebih.
  • Jika terdapat darah pada dahak yang dikeluarkan.
  • Pernapasan cepat dan/atau nyeri dada.
  • Menjadi mengantuk atau bingung.
  • Jika bronkitis berulang

Muncul Benjolan di Belakang Telinga? Bisa Jadi Infeksi Mastoiditis

Selain kanker dan getah bening, benjolan di belakang telinga juga dapat disebabkan oleh mastoiditis. Mastoiditis ini adalah infeksi yang terjadi pada bagian tengah telinga. Apabila infeksi ini semakin parah, maka akan berakibat pada rusaknya tulang mastoid dan juga menyebabkan munculnya kista yang bernanah. Berbicara tentang tulang mastoid, tulang ini terletak mengelilingi telinga bagian dalam dan tengah. Ia memiliki fungsi melindungi tengkorak jika terjadi benturan atau cedera, melindungi struktur dalam telinga, dan berperan dalam proses pendengaran.

Adanya pertumbuhan sel kulit di dalam telinga atau yang dalam bahasa medisnya disebut kolesteatoma, dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya mastoiditis. Infeksi ini umumnya terjadi pada anak-anak. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa juga dapat terinfeksi. Di Indonesia sendiri, setidaknya tercatat sekitar 150 ribu kasus mastoiditis per tahun. Infeksi mastoiditis terbagi menjadi dua jenis: mastoiditis kronis dan akut. Penyakit akan menyebar dalam waktu yang cepat jika seseorang menderita mastoiditis akut. Sedangkan, seseorang dikatakan menderita mastoiditis kronis apabila telinganya mengeluarkan cairan.

Gejala Mastoiditis

Berikut gejala-gejala yang mungkin timbul jika kamu menderita mastoiditis:

  • telinga berdenging
  • keluarnya cairan dari telinga
  • demam
  • nyeri berdenyut pada bagian telinga tertentu
  • timbul kemerahan
  • adanya benjolan di belakang telinga.

Umumnya, gejala-gejala tersebut tidak begitu terlihat apabila terjadi pada anak-anak. Ada saatnya orang tua perlu memerhatikan perubahan yang dilakukan oleh anaknya, seperti:

  • menarik-narik telinga
  • memukul salah satu isi kepala
  • perubahan mood yang tidak wajar
  • lebih sering menangis.

Komplikasi Mastoiditis

Walaupun tidak segawat kelenjar getah bening atau kanker, mastoiditis bukan merupakan infeksi yang dapat sembuh tanpa diatasi dengan baik. Infeksi yang pada awalnya hanya mengganggu tulang mastoid, lama kelamaan dapat menyebar ke tulang tengkorak dan organ lainnya. Selain itu, mastoiditis juga dapat menimbulkan komplikasi lain, seperti:

  • gangguan penglihatan
  • radang selaput otak
  • hilangnya pendengaran
  • lumpuhnya saraf wajah
  • radang labirin yang berakibat vertigo, mual dan muntah.

Penanganan Mastoiditis

Dalam kasus ringan, mastoiditis diobati dengan menggunakan antibiotik sebagai penanganan infeksi yang menyerang. Namun, pada kasus yang lebih parah, mastoiditis harus ditangani dengan pembedahan agar nanah yang berada pada telinga bagian tengah dapat mengering dengan segera dan mastoid akan dihilangkan.

Apabila infeksi ini tidak kunjung membaik atau bahkan muncul keluhan baru, segera konsultasikan kondisi kamu dengan dokter agar dapat ditangani dengan tepat.

Infeksi Bakteri Shigella: Sebabkan Diare Berdarah Hingga Toxic Megacolon

Tentu kamu sudah pernah mendengar bakteri E. Coli, kan? Ternyata, tidak hanya bakteri E. Coli saja yang dapat mengganggu ususmu, namun juga ada bakteri lain yang perlu kamu waspadai, namanya bakteri Shigella. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi usus yang dalam bahasa medisnya disebut shigellosis. Jika dibiarkan saja, bakteri ini membawa masalah yang serius pada kesehatanmu.

Salah satu komplikasi yang disebabkan oleh bakteri ini adalah toxic megacolon. Apa sebenarnya komplikasi ini dan efek apa saja yang dapat ditimbulkan?

Mengenal Toxic Megacolon dan Efeknya

Toxic megacolon adalah kondisi, di mana usus besar tidak dapat berfungsi secara optimal. Istilah megacolon ini memiliki pengertian melebarnya usus besar. Nah, penambahan kata toxic diberikan sebagai peringatan efek serius yang dapat ditimbulkan dari komplikasi ini.

Walaupun pelebaran usus besar ini hanya terjadi dalam beberapa hari saja, namun jika tidak ditangani segera dapat membahayakan kesehatan bahkan nyawamu. Pelebaran usus besar ini akan berdampak pada kinerja usus besar itu sendiri. Nantinya, usus besar tidak mampu membuang gas atau ninja dari tubuhmu. Nah, jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, sudah dapat dipastikan bahwa gas dan tinja tersebut akan menumpuk di usus besar dan kemudian akan menyebabkan robekan pada usus besar. Apabila usus besar ini pecah, bakteri yang seharusnya berada di dalam usus besar akan mengontaminasi rongga perut yang seharusnya dalam keadaan steril dari bakteri. Nah, jika hal ini terjadi, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan tindakan pembedahan atau operasi. Tentu kamu tidak ingin hal ini terjadi, kan?

Langkah-langkah pencegahan infeksi bakteri Shigella

Setelah kamu menyimak kemungkinan komplikasi yang ditimbulkan oleh bakteri Shigella, saatnya untuk mencermati cara pencegahannya, nih:

  • jika sedang mengalami diare, jangan menyiapkan atau bahkan memasak makanan
  • Mencuci tangan dengan tata cara yang baik. Jangan lupa untuk dampingi anak-anak ketika mereka mencuci tangan mereka.
  • Membersihkan tempat mengganti popok si kecil secara rutin dan bersih.
  • Tidak menelan air dari kolam renang, genangan, danau, dan tempat yang dekat dengan saluran pembuangan.
  • Usahakan untuk tidak melakukan aktivitas hubungan intim dengan penderita diare atau seseorang yang baru sembuh dari diare.
  • Usahakan untuk menghindari kontak langsung dengan penderita diare hingga ia benar-benar sembuh.

Dapat disimpulkan, bahwa cara yang efektif untuk mencegah kamu terinfeksi dari bakteri Shigella adalah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.

Mengenal Lebih Dekat Ataksia Friedreich dan Pengobatannya

Dengan angka peluang 1:40.000, penyakit Ataksia Friedreich dapat dikatakan sebagai penyakit langka. Penyakit ini menyerang sistem saraf, sehingga menyebabkan gangguan pada pergerakan dan keseimbangan seseorang. Penyakit ini bersifat degeneratif, yang berarti diwariskan berdasarkan garis keturunan. Seringnya, penyakit ini ditemukan di daerah Asia Selatan, Eropa, dan Afrika Utara.

Gejala Ataksia Friedreich dapat dideteksi semenjak umur 2 hingga awalan 50 tahun. Gejala yang muncul seringnya terjadi pada usia anak-anak hingga remaja, sekitar 5-15 tahun. Seseorang yang menderita Ataksia Friedreich mengalami kerusakan berat pada otak kecil dan sumsum tulang belakang. Bagian-bagian tersebut berperan penting terhadap koordinasi dan kontrol gerakan otot lengan dan kaki. Lalu, seperti apa sebenarnya gejala Ataksia Friedrich ini?

  • kesulitan berjalan
  • kesulitan dalam menyeimbangkan tubuh
  • otot melemah dan kaku
  • koordinasi yang tubuh
  • skoliosis atau tulang belakang melengkung
  • kaki bengkok
  • kesulitan berbicara, seperti cadel
  • diabetes
  • mudah merasa lelah
  • berkurang atau hilangnya refleks pada bagian lutut dan pergelangan kaki
  • jantung berdebar

Penyebab Ataksia Friedreich

Telah dijelaskan bahwa, penyakit Ataksia Friedreich diwariskan berdasarkan garis keturunan. Idealnya, gen FXN (gen pembawa protein) menghasilkan 33 salinan urutan DNA. Namun, dalam kasus Ataksia Friedreich, gen ini menghasilkan salinan DNA sebanyak 66-1.000 kali. Akibatnya, seseorang akan mengalami kerusakan berat pada otak kecil dan sumsum tulang belakang.

Diagnosis Ataksia Friedreich

Mendeteksi atau mendiagnosis Ataksia Friedreich dilakukan dengan beberapa prosedur. Prosedur ini dilakukan secara bertahap. Pemeriksaan awal berupa pengecekan riwayat kesehatan Anda dan keluarga secara lengkap. Prosedur dilanjutkan dengan pemeriksaan neuromuskular terperinci yang bertujuan untuk mengetahui gangguan pada sistem saraf, hilangnya refleks, dan keseimbangan yang buruk.

Dokter juga akan merekomendasikan Anda untuk melakukan CT scan dan MRI pada otak serta sumsum tulang belakang. Apabila CT scan memberikan gambaran tulang, organ, dan pembuluh darah secara detail, maka MRI akan menghasilkan gambaran struktur dalam tubuh. Anda juga mungkin akan melakukan rontgen kepala, tulang belakang, atau dada.

Apakah Ataksia Friedreich dapat diobati?

Sejauh ini, belum tersedia pengobatan Ataksia Friedreich yang dapat menyembuhkan secara efektif. Walaupun begitu, penderita tetap dapat mengupayakan terapi fisik atau terapi wicara untuk mendukung ia beraktivitas secara optimal. Beberapa pasien direkomendasikan untuk menggunakan alat bantu agar memudahkannya bergerak. Dalam kasus tertentu, seperti tulang belakang melengkung (skoliosis) atau masalah kaki, penderita Ataksia Friedreich dianjurkan untuk melakukan operasi. Pasien juga akan diresepkan obat untuk mengobati jantung atau diabetes.

Pencegahan Ataksia Friedreich

Apabila Anda mengetahui bahwa dalam silsilah keluarga terdapat riwayat Ataksia Friedreich, Anda dianjurkan untuk berkonsultasi, konseling, dan skrining ke dokter sedini mungkin. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan gambaran, apakah keturunan Anda nanti memiliki kemungkinan mengalami penyakit ini atau tidak.

Jaga Anak Anda dari Bahaya Anoreksia Nervosa

Sebuah berita mengejutkan mengabarkan bahwa terdapat beberapa anak perempuan yang bahkan belum menginjak usia 10 tahun, sudah terobsesi untuk memiliki tubuh ramping. Sebanyak 100 orang anak di Inggris yang berusia 5-9 tahun menjalani perawatan intensif akibat gangguan makan yang diderita. Diduga bahwa ketakutan anak-anak terhadap makanan dipengaruhi oleh foto-foto yang ditampilkan pada majalah selebriti.

Penting untuk dijadikan perhatian, bahwa anoreksia akan berdampak buruk, baik secara fisik maupun psikis terhadap anak. Sebagai contoh, anak yang menderita anoreksia rentan mengalami sembelit, lemah otot, gangguan tidur, sakit perut, pusing, hingga pingsan. Hal ini tentunya diakibatkan oleh kurangnya asupan nutrisi dari makanan yang seharusnya terpenuhi dengan baik. Lebih jauh lagi, efek samping jangka panjang yang mungkin dapat muncul, antara lain masalah pada jantung dan saraf, gangguan kesuburan pada wanita, osteoporosis, dan kekurangan darah.

Penanganan dan pengobatan anoreksia membutuhkan proses yang cukup panjang, mengingat bahwa anoreksia adalah penyakit jiwa, yang perlu ditangani baik secara fisik maupun mental. Pengobatan ini penting untuk dilakukan agar tidak terjadi komplikasi atau kondisi yang lebih parah lagi pada penderita anoreksia. Semakin cepat anak dibantu untuk pulih dari anoreksia, maka kondisi fisik dan mental mereka dapat segera membaik.

Kenali gejala anoreksia pada anak-anak

Akan lebih baik, jika orang tua mengamati perubahan yang terdapat pada anak-anaknya. Di bawah ini terdapat gejala yang mungkin muncul:

  • Mengalami kecemasan berlebih, mudah stres dan depresi, hingga mengkritik diri sendiri secara berlebihan.
  • Membatasi asupan makanan, walaupun tubuh telah ramping.
  • Melakukan olahraga secara berlebihan.
  • Mengalami ketakutan secara berlebihan ketika berat badan bertambah, bahkan ketika berat badan anak telah berada di bawah standar kategori normal.
  • Adanya gangguan siklus menstruasi yang terjadi pada remaja perempuan, seperti tidak siklus yang tidak teratur atau bahkan berhenti.
  • Kehilangan berat badan secara drastis dalam waktu yang relatif singkat.
  • Adanya keanehan perilaku ketika menyantap makanan, seperti sebisa mungkin menghindari makan atau makan secara diam-diam.
  • Makan dalam jumlah yang sangat sedikit.
  • Mengonsumsi jenis makanan yang tidak biasa.

4 Cara Mudah untuk Mencegah Abses Gigi

Jika Anda merasakan sakit gigi, jangan tunda untuk pergi ke dokter gigi. Sakit gigi yang terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Anda akan mengalami gusi atau gigi yang bernanah atau biasa disebut sebagai abses gigi. Bakteri merupakan penyebab utama terjadinya abses. Saat menderita abses gigi, Anda akan merasakan nyeri yang datang tiba-tiba, gigi goyang, gusi kemerahan, bengkak, serta mulut berbau busuk.

Kondisi ini bisa menjalar hingga ke telinga, rahang, dan leher jika tidak segera ditangani. Pada abses yang terjadi di ujung gigi (pariapikal), bakteri bisa menembus hingga ujung akar kemudia menumpuk, sehingga memunculkan nanah. Sama halnya saat bakteri menumpuk di kantung gusi yang tidak menempel dengan lapisan terluar akar, sehingga menyebabkan abses gusi (periodontal).

Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya abses gigi, Anda perlu memastikan kebersihan area mulut dan gigi. Caranya dengan melakukan hal berikut:

  • Rutin menggosok gigi dengan pasta gigi berflorida, dua kali dalam sehari
  • Menggunakan benang gigi setidaknya satu kali dalam sehari untuk mengangkat sisa-sisa makanan yang menyelip di gigi.
  • Mengurangi makan dan minuman manis yang mengandung zat tepung, terutama sesaat sebelum tidur.
  • Jangan lupa untuk memeriksakan gigi secara teratur ke dokter gigi.

Apa yang harus dilakukan jika sudah terlanjur terkena abses gigi?

Langkah pertama yang harus Anda lakukan setelah merasa abses gigi adalah dengan pergi ke dokter gigi. Dokter akan melakukan analisis terhadap lokasi yang kemungkinan terdapat abses gigi dengan cara berikut:

  • Mengetuk gigi. Gigi yang abses biasanya lebih sensitive dan mudah terasa nyeri bila diketuk.
  • Rontgen untuk melihat abses dan mengetahui apakah abses sudah menyebar ke area lain.
  • CT scan yang biasanya dilakukan hanya ketika abses sudah menyebar ke daerah lain, misalnya ke leher, untuk melihat seberapa lebar abses di area lain tersebut.

Jika nanah abses sudah menyebar, Anda haru mengonsumsi antibiotik dalam jangka waktu tertentu untuk menghentikan infeksi bakteri. Selanjutnya, dokter akan memutuskan apakah gigi Anda perlu dicabut atau bisa direhabilitasi.