Pahami Gejala, Diagnosis dan Faktor Risiko Skizofrenia Katatonik

Skizofrenia Katatonik

Skizofrenia katatonik adalah salah satu tipe atau ciri dari penyakit mental serius yang disebut skizofrenia. Skizofrenia ini dapat mencegah Anda untuk memisahkan pikiran yang nyata dan khayalan, keadaan pikiran yang demikian disebut psikosis.

Skizofrenia katatonik dapat memengaruhi cara seseorang bergerak dengan cara yang ekstrem. Anda bisa saja tetap diam atau justru menjadi hiperaktif tanpa penyebab yang jelas. Nama baru untuk kondisi tersebut adalah skizofrenia dengan jenis katatonik atau skizofrenia katatonik.

Gejala Skizofrenia Katatonik

Seseorang dengan gejala katatonik pada skizofrenia biasanya menunjukkan tingkat gerakan fisik yang tidak biasa. Orang tersebut dapat terlihat sedang menggerakkan tubuhnya secara tidak teratur atau justru tidak bergerak sama sekali. Keadaan tersebut bisa berlangsung selama beberapa menit, jam bahkan berhari-hari.

Gejala Skizofrenia Katatonik termasuk:

  • pingsan
  • katalepsi
  • tidak merespon atau merespon secara lambat jika ada stimulus eksternal
  • mutism atau diam saja
  • melakukan gerakan aneh dan berlebihan
  • meringis
  • echolalia, yaitu menirukan omongan orang lain
  • echopraxia, yaitu menirukan gerakan orang lain
  • Melakukan gerakan tanpa tujuan dengan berulang-ulang
  • posturing, yaitu berada dalam posisi melawan gravitasi.

Selain gejala yang telah disebutkan tersebut, pasien atau penderita skizofrenia katatonik juga mengalami gejala khas skizofrenia sebagai berikut.

  • Delusi

Pasien mungkin percaya atau menganggap dirinya sedang dianiaya. Mereka juga mengira dirinya memiliki kekuatan dan bakat yang luar biasa.

  • Halusinasi

Halusinasi bisa berupa halusinasi pendengaran (mendengar suara) dan halusinasi visual (melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada) dan halusinasi yang melibatkan sistem sensorik lainnya.

  • Gangguan pikiran

Ketika berbicara, orang dengan kondisi skizofrenia dapat tiba-toba melompat dari satu topik ke topik yang lain tanpa alasan logis. Ucapannya juga tidak jelas dan sulit untuk dipahami.

  • Kurang motivasi (avolition)

Pasien dengan skizofrenia kehilangan motivasinya. Mereka bisa menyerah pada aktivitas sehari-hari seperti mencuci dan memasak.

  • Ekspresi emosinya buruk

Pasien bisa saja tidak menanggapi peristiwa atau kabar, baik itu kabar bahagia atau sedih. Mereka bisa juga memberikan reaksi yang tidak tepat.

  • Menarik diri

Pasien skizofrenia menarik diri dari pergaulan karena mereka yakin ada seseorang yang akan menyakiti mereka.

  • Tidak sadar akan kondisi dirinya

Karena halusinasi dan delusi terlihat begitu nyata bagi pasien, banyak yang tidak percaya bahwa mereka sakit.

  • Mengalami kesulitan dalam hal kognitif

Pasien kesulitan untuk berkonsentrasi, mengingat berbagai hal, dan membuat rencana untuk ke depannya.

Pasien dengan gejala skizofrenia katatonik biasanya tidak bisa mendapatkan bantuan medis sendiri. Oleh karena itu, anggota keluarga atau teman terdekatnya bisa mencari pertolongan medis agar pasien mendapatkan penanganan yang tepat.

Diagnosis Skizofrenia Katatonik

Hanya dokter yang dapat mendiagnosis skizofrenia katatonik. Untuk bisa melakukan diagnosis, dokter dapat melakukan beberapa tes sebagai berikut.

  • EEG (electroencephalogram)
  • Pemindaian MRI
  • CT scan
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan kejiwaan

Untuk diagnosis skizofrenia katatonik, seseorang harus didiagnosis secara terpisah dengan katatonia dan skizofrenia. 

Diagnosis Katatonia

Seorang harus menunjukkan tiga dari gejala yang telah disebutkan sebelumnya. Seorang dokter atau psikiater dapat menggunakan alat skrining khusus seperti Northoff Catatonia Rating Scale atau Bush-Francis Catatonia Rating Scale untuk mengidentifikasi katatonia.

Diagnosis Skizofrenia

Untuk dapat didiagnosis skizofrenia, seseorang harus memiliki gejala seperti yang telah disebutkan di atas. Hal ini termasuk setidaknya terdapat satu dari tiga gejala utama: halusinasi, delusi atau bicara tidak teratur.

Faktor Risiko Skizofrenia Katatonik

Faktor risiko skizofrenia katatonik antara lain:

Genetika

Individu dengan riwayat keluarga ada yang mengalami skizofrenia memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan gejala skizofrenia katatonik.

Infeksi virus

Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi virus dapat berpengaruh terhadap tumbuhnya skizofrenia pada anak.

Malnutrisi pada janin

Jika janin menderita malnutrisi selama kehamilan, ada risiko lebih tinggi terkena skizofrenia.

Stres selama awal kehidupan

Stres berat di awal kehidupan dapat berkontribusi mengalami skizofrenia. Kondisi stres sering terjadi tepat sebelum skizofrenia muncul.

Pelecehan atau trauma masa kecil

Usia orangtua saat lahir

Anak yang terpaut usia cukup jauh dengan orangtuanya lebih berisiko mengalami skizofrenia.

Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan memengaruhi pikiran selama masa remaja, dan dapat meningkatkan risiko berkembangnya skizofrenia.

Skizofrenia katatonik merupakan penyakit yang dapat dialami seumur hidup. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui berbagai informasi mengenai hal tersebut agar penyakit atau gangguan dapat dikendalikan dengan tepat untuk mencegah gejalanya muncul kembali.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *