Perbedaan Benzoyl Peroxide dan Salicylic Acid Adalah Fungsi Kerja Masing-Masing Kandungan

Jerawat adalah salah satu masalah kulit yang bisa, atau malah bahkan, pernah dialami oleh siapa saja. Saking “populernya” jerawat, banyak orang mulai menormalisasi dan menganggap kondisi itu lumrah belaka. Masalahnya, jerawat yang tidak ditangani dengan baik serta benar berpotensi menjadi bertambah parah. Padahal obat jerawat banyak tersedia, meski sebagian besar mengandung benzoyl peroxide atau salicylic acid. Masing-masing, benzoyl peroxide dan salicylic acid adalah fungsi kerja masing-masing kandungan.

Salicylic acid atau yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut asam salisilat merupakan obat yang banyak dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai masalah kulit—utamanya yang disebabkan oleh penebalan dan pengerasan kulit. Selain kerap digunakan dalam berbagai macam produk anti-jerawat, asam salisilat ini juga biasa digunakan untuk mengobati mata ikan hingga kutil.

Salicylic acid adalah bahan yang sedikit lebih lembut dan menargetkan penyebab jerawat. Asam salisilat adalah asam beta-hidroksi yang berasal dari kulit pohon willow. Asam salisilat dapat bekerja secara sendiri atau dalam kombinasi dengan asam alfa-hidroksi, seperti asam glikolat dan asam laktat.

Dalam mengatasi jerawat, asam salisilat akan larut dalam minyak dan dapat melarutkan sisa-sisa sel kulit mati dan sebum yang menyumbat pori-pori. Itulah yang menjadikan salicylic acid sebagai bahan utama dalam produk anti-noda yang dijual bebas. Yang menjadikannya populer, obat ini juga memiliki sifat anti-inflamasi dan termasuk dalam keluarga kimia yang sama dengan aspirin (NSAID).

Sementara benzoyl peroxide memang merupakan obat yang hadir khusus untuk mengobati jerawat, mulai dari tingkat ringan hingga sedang. Sama seperti obat untuk kulit lainnya, benzoyl peroxide juga merupakan obat topikal atau obat yang digunakan di luar (tidak diminum). 

Benzoyl peroxide bisa ditemukan dalam sediaan tunggal atau kombinasi dengan kandungan lain, seperti antibiotik. Dalam pengobatan jerawat, benzoyl peroxide bekerja dengan cara mengurangi peradangan, membunuh bakteri penyebab jerawat, dan membuka pori-pori kulit yang tertutup.

Malah, benzoyl peroxide sudah memegang predikat sebagai “pembersih” jerawat paling terkenal untuk mengurangi bakteri dan menyerap sebum berlebih. Konon katanya, obat ini sudah dimanfaatkan untuk keperluan tersebut sejak tahun 1934 silam. 

Adapun perbedaan besar yang terdapat di antara kedua bahan tersebut, benzoyl peroxide dan salicylic acid, adalah satu di antaranya, yakni benzoyl peroxide, memiliki sifat antibakteri dan lebih membantu untuk lesi peradangan jerawat seperti papula dan pustula merah yang lembut. 

Akan tetapi, asam salisilat memiliki efek komedolitik yang lebih kuat, sehingga lebih efektif dalam mengobati dan mencegah komedo dan komedo putih. Karena kelebihan dan keunggulannya berbeda, keduanya tak bisa disandingkan untuk dikomparasi. Sebab, keduanya bekerja sama dengan baik.

Dengan begitu pula, tidak disarankan untuk menggunakan kedua obat atau produk yang mengandung kedua zat ini secara bersamaan. Sebab penggunaan terlalu banyak produk yang memiliki bahan aktif sekaligus bisa menyebabkan iritasi dan kasus dermatitis.

Pilihlah salah satu saja, atau jika belum dapat menentukan mana yang terbaik, kamu bisa melakukan uji coba terhadap masing-masing bahan berikut. Bisa juga mengombinasikan keduanya, dengan catatan tertentu. Kamu bisa memulainya bergantian beberapa hari sampai kulit terbiasa dengan kedua obat ini, biasanya ditandai dengan tidak tampaknya tanda-tanda pengelupasan, kemerahan, atau iritasi.

Patut diingat juga bahwa benzoyl peroxide dan salicylic acid adalah obat yang bisa menimbulkan efek samping. Oleh karenanya berhati-hatilah untuk tidak mengaplikasikan bahan aktif ini di dekat kulit halus di sekitar mata. Perawatan jerawat paling baik digunakan pada lapisan tipis di area wajah dan tubuh yang terkena, tidak hanya di bintik jerawat yang ada.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *