Biasanya sunat dilakukan untuk kaum laki-laki, tetapi banyak sebagian orang melakukan sunat bayi pada anak perempuannya. Hal ini masih menjadi kontroversi dikarenakan mayoritas orang melakukannya atas dasar budaya dengan sedikit manfaatnya.

Sunat ialah tindakan untuk membuang kulit yang menutupi kelamin bagian depan. Umumnya, tindakan sunat bayi dilakukan pada bayi laki-laki. Namun, ada juga beberapa kelompok masyarakat yang melakukan sunat bayi perempuan. 

Biasanya sunat pada bayi perempuan ini dengan dilakukannya tindakan memotong sedikit kulit yang menutupi klitoris. Akan tetapi perlu diperhatikan, tidak semua anak perempuan memerlukan tindakan sunat. Secara anatomi, tidaklah semua bayi perempuan memiliki letak prepusium yang mengganggu dan menutupi klitoris atau saluran kemih, jadi tidak semua bayi perempuan membutuhkan tindakan sunat. 

Bahkan, jika tetap dilakukan sunat, meski kondisi bayi tidak memerlukannya, ini akan berdampak pada bahayanya kesehatan bayi. Komplikasi serius yang dapat mengancam nyawa pun dapat terjadi. 

Hal ini pun menuai beragam pro dan kontra pada masyarakat. Bahkan beberapa orang menganggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Akan tetapi ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari tradisi dan budaya yang bertahan selama berabad-abad.

WHO memberi pernyataan, bahwa sunat pada perempuan tidaklah memberi manfaat secara medis, bahkan membawa kerugian dan bahaya semata. Sunat pada bayi perempuan dengan metode apapun tetap akan merusak kelamin perempuan. 

Sebanyak 8.000 saraf yang ada pada area genital perempuan, menjadikan kelamin perempuan adalah area paling sensitif yang terdapat pada tubuh perempuan, terutama pada bagian klitorisnya. Jika sunat bayi tetap dilakukan tanpa adanya kebutuhan secara medis, dapat berdampak kepada gangguan kesehatan reproduksi. Risiko ini dapat terjadi secara jangka panjang, seperti :

  • Sensitivitas seksual akan terganggu
  • Timbulnya penurunan rangsangan maupun kenikmatan seksual
  • Nyeri saat melakukan hubungan seksual
  • Kemungkinan hilangnya orgasme

Beberapa kelompok masyarakat di Indonesia maupun di beberapa negeri melakukan tindakan sunat bayi dengan cara memotong ataupun melukai sedikit penutup klitoris (prepusium). Bahkan ada juga yang melakukannya dengan menggores klitoris atau prepusium hingga keluar darah, menusukkan atau mencungkil bagian kelamin perempuan, membuang sebagian klitoris dan atau labia minor, membuang seluruh klitoris dan labia mayor, hingga memperkecil vagina dengan menjahit bibir vagina, dan hanya menyisakan saluran kemih saja.

Hal ini tentunya sangat berisiko akan terjadinya komplikasi secara langsung, seperti :

  • Pendarahan hebat pada bagian genital bayi perempuan
  • Pembengkakan pada jaringan kelamin
  • Terjadinya syok dan demam pada bayi
  • Cedera pada area genital
  • Timbulnya masalah pada saluran kencing dan penyembuhan luka
  • Risiko terjadinya infeksi tetanus
  • Rasa sakit yang parah

Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi, seperti :

  • Timbulnya masalah pada vagina seperti, keputihan, gatal, bakteri dan infeksi lain
  • Timbulnya permasalahan pada kemih, nyeri saat buang air kecil, infeksi pada saluran kemih
  • Terjadinya masalah pada menstruasi 
  • Keloid
  • Permasalahan seksual, menurunnya rasa kepuasan, nyeri saat berhubungan seksual
  • Meningkatnya risiko komplikasi saat persalinan, hingga terjadinya kematian bayi baru lahir, dan masih banyak lagi.

Banyaknya pembuluh darah yang terdapat di area genital bayi perempuan menyebabkan banyaknya risiko yang bisa terjadi, seperti terjadinya pendarahan yang hebat serta sakit yang luar biasa. Badan POGI (Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) juga tidak menganjurkan adanya praktik sunat untuk bayi perempuan, jika melibatkan adanya tindakan untuk memotong atau membuang organ reproduksi perempuan seperti, klitoris. Akan tetapi, jika diperlukan atas dasar kesehatan bayi tersebut, seperti adanya penyakit selaput pada klitoris, maka tindakan pembukaan klitoris dapat dilakukan. 

Secara medis belum ada bukti pendukung bahwa melakukan sunat pada perempuan diperlukan, lain halnya dengan sunat pada laki-laki yang memberikan banyak manfaat. Mengingat akan risiko terjadinya pendarahan hebat, dan segala kemungkinan kerusakan pada area genital perempuan menyebabkan sunat perempuan ini tidak menjadi prosedur untuk rutin dilakukan di berbagai organisasi kesehatan di dunia.

Perlu diperhatikan, orangtua sangatlah perlu mempertimbangkan dan meninjau lebih jauh jika berpikiran untuk melakukan sunat pada bayi perempuannya. Cobalah untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum membuat keputusan melakukan sunat pada bayi perempuannya. Agar tidak terjadinya hal-hal yang justru memberi kerugian dan risiko pada kesehatan bayi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *